Climb to the top, re-built the Climbing Wall (Part 3 – end, we’re on the TOP)

Malam tahun baru 2000, sekolah mengadakan acara pergantian tahun selama sehari semalam. Pertama dan terakhir kalinya ada acara macam ini di sekolah. Peresmian Climbing Wall pun dilaksanakan setelah pergantian tahun oleh Kepsek. Kami tutupi bagian depan Wall dengan kain spanduk, yang kemudian terbuka menurun saat pita digunting oleh Pak Kepsek. Taufik dan Oryza beratraksi rapeling dengan posisi terbalik, untuk menurunkan spanduk dengan tulisan, yang aku sendiri lupa apa isinya. Hehehe… Puaslah kami. Kerja keras menguras energi telah terbayarkan. Climbing Wall baru telah berdiri. Sejarah baru BY telah ditulis, dengan kami sebagai pelaku sejarahnya.
Belum puas dengan Wall baru, kami akan teruskan kegilaan kami dengan ide busuk lain. Sejarah lain akan kami tulis lagi.
Selain proyek renovasi ini, kewajiban sebagai “top management” BY harus kami jalankan. Diklat rutin mingguan dengan CA harus konsisten kami isi. Rangkaian pelantikan seperti Lintas Alam Perumnas, Lintas Alam Canggu, Pra-Latdas sampai Latdas harus kami organisir di tengah repotnya proyek ini. Belum lagi kegiatan eksternal dengan organisasi pecinta alam lain. Seperti Temu Cinta Alam (TCA), Lomba Lintas Kampus, Susur Pantai dan lainnya. Itupun masih ditambah kegiatan Penghijauan se-Bali, hasil dari TCA.
Dan sebagai perayaan dari Climbing Wall BY yang baru itu, kami membuat sebuah even. Climbing Competition, bernama BY Cup. Tetap dengan kreatifitas, kegilaan, dan kekompakan yang sama. Hey..!! Membuat even dengan memulai dari modal nol rupiah itu tidaklah mudah.  BY Cup membidik peserta dari kalangan siswa. Dan dengan apik bisa dilanjutkan ke BY Cup berikutnya oleh angkatan-angkatan setelah kami.
Kalau saya ingat lagi masa itu sekarang, rasanya kami ini seperti sekumpulan orang bodoh (atau gila??) yang dengan teganya mengesampingkan materi di kelas demi BY. Sempat tercetus sebuah moto, “sekolah jangan sampai mengganggu hobi”. Tapi Alhamdulillah, kami berhasil mengalahkan moto gila itu dan menyeimbangkan antara sekolah kami dengan hobi. Prestasi akademik tetap kami raih. Godeg bisa berprestasi merebut piala di Olimpiade Akuntansi, aku pun menebus dosa mangkir dari olimpiade fisika dengan memberi piala dari English Quiz se-Bali. Godel tak mau kalah dengan prestasinya di bidang seni rupa, dan menjadi salah satu pemain inti di MPK (Majelis Permusyawaratan Kelas). Purti dan Lepot menguasai “top management” OSIS. O iya, semua anggota angkatan IX setelah lulus SMU diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) dan favorit. 2 orang diantara kami akhirnya memilih ke perguruan tinggi swasta favorit. Padahal sebenarnya kursi di PTN juga mereka raih. Ya, kenakalan itu telah kami tebus dengan prestasi. Mamaku pun seolah lupa bahwa dulu anaknya ini sering bolos dari kelas, gak mau ikut olimpiade fisika, sering pulang malam dan jarang kelihatan di rumah, kecuali saat akan tidur dan baru bangun tidur.

-end-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s